1 : Pembunuh Sepi

Baru-baru ini aku disibukkan dengan pencarian dari pertanyaan-pertanyaan yang berkelibat di benakku. Aku sudah mencoba mencari jawaban ke sana ke mari. Entah sudah berapa tempat yang kuporak-porandakan demi mendapat sebuah jawaban.

Aku kerap menerka-nerka dimana jawaban itu berada. Barangkali ada di balik bantal, di bawah meja makan, atau mungkin di dalam layar ponsel lima inci. Tapi seperti yang dapat kau tebak, nihil. Mereka tak memiliki jawaban.  Sampai aku benar-benar merasakan sepi yang mencekam. Dingin dan menggigil.

Malam yang sepi di tempat yang sepi. Aku meringkuk di sudut kamar yang lagi-lagi berdinding sepi. Kugigit ujung-ujung kukuku─sebenarnya baru kupotong beberapa jam yang lalu. Kucoba berdendang untuk menghilangkan sepi, namun sial, dendangan itu hanya menguap dan jadi gema di langit-langit kamar. Kurasa tinggal matikan listrik, membuat stalaktit, dan mengundang kelelawar ke tempat ini, maka  jadilah tempat ini serupa goa.  Untung saja tak kulakukan itu, lagipula mana bisa.

Aku masih bertanya-tanya siapa pembunuh sepi, sampai bibirku tertiba bergerak tanpa kupinta, mengucap potongan kalimat sarat makna..

“..Fa innii qoriib..”

(… Maka sesungguhnya Aku dekat..)

Maka mata tiba-tiba mengatup takdzim. Tubuh yang meringkuk seketika tegak tanpa perintah.  Hati segera bebenah, dan bibir kembali berucap,

“Wa idza sa alaka ‘ibaadii ‘annii faa innii qariib..”

(Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat.. Qs. Al-Baqarah: 186)

Satu tetes air mata mengalir di kesunyian malam. Bibir seperti tak mau kehilangan kesempatan, berucap lagi,

“Laa tahzan innallaha Ma’ana…”
(Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita..)

Begitu mata terbuka, tangan tergopoh-gopoh mencari sebuah kitab yang tampaknya sudah begitu lama tak terjamah. Lusuh dan sayu. Maka pecahlah tangisan itu, melukai tubuh-tubuh sepi yang menggantung. Sebuah kalimat dari kitab itu langsung menyapa pandangan mataku,

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (Qs.Qaaf ayat : 16)

Aku tergugu dan membisu. Mengigit bibir akupun tak mampu. Hati menangis parau. Aku tahu, aku sudah tahu sebenarnya. Lantas mengapa masih bertanya-tanya? Mengapa masih mengatakan sepi? Seolah lupa, bahwa Dia selalu setia menemani.

Wallahu’alam.

Advertisements

Pemandangan Indah

tak ada yang lebih indah dari

melihat bapak berkopiah dan berkoko bersih

bersarung, dan  meletakkan sajadah di lengan kiri

 

dengan sisa-sisa air bersuci

yang berserak di muka, lengan, juga kaki

melangkah ke surau yang memanggil minta didatangi

 

Bandung, 7 September 2017

Batu dan Kerikil

Tuhan, aku ada di jalan

dan hatiku menggenggam batu

yang kupasak dalam-dalam,

sebagaimana yang Kau titahkan padaku

kuharap ia dapat menjadi alasan,

untuk Engkau dapat menyukaiku

 

tapi ternyata cukup berat, Tuhan

di persimpangan aku bertemu kerikil-kerikil kecil

para kerikil itu merayu dari bawah tubuhku

agar aku melepas pasak batu  itu

mereka bilang, aku tak bisa berlari dengan batu

aku tak bisa melesat dengan pasak itu

 

namun jika kulepas

ia akan mencium bumi, bergedebum bunyinya

pecah dan  tak bedanya dengan kerikil kecil

 

lagipula, aku takut pada-Mu

aku takut pada-Mu

 

Bandung, 8 September 2017

Di Ruang Kelasku, Hari Itu

Mahamurid menelan dogma

di ruang kelas yang ramai akan angan nilai

dan selembar ijazah

mereka mengangguk-angguk takdzim

pada teori yang esa dan adikuasa

seorang pengajar bertuah : “Bacalah! Bacalah! Bacalah!”

Mahamurid manggut-manggut setuju

salah seorang dari mereka mengacungkan tangan,

kala sang  pengajar menyuapkan pengetahuan

“Tapi dalam teori anu dalam buku anu, begini bukan begitu”

sang pengajar kembali berkata : “Tapi bacalah teori saya!”

Mahamurid menaik-turunkan kepalanya lagi : kami setuju.

dan mungkin akan selalu setuju.

karena pengajar adalah teladan

ia penggenggam takdir sepanjang perkuliahan

meski Mahamurid sesungguhnya merasa pandir

dalam mimpi dan kebenaran

 

Bandung, 21 September 2017

(dua hari setelah perselisihan dengan tenaga pengajarnya para Mahamurid)

Nahkoda

kalau nanti nahkoda telah bersitatap dengan kapalku,

katakan padanya bahwa

kapal ini adalah kapal paling setia di samudera

gelombang yang mengepingkan batu karang,

takkan sanggup menggulingkannya

karena ia milik Tuhanku,

dan ia sabar menunggu nahkodaku.

 

Bandung, 12 September 2017

di Hari Jumat

di hari Jumat, berkumpullah semua

padi-padi dari petak yang berbeda

yang genjah, maupun yang berhijau lama

yang merunduk atau saja yang tegak gagah

 

di hari Jumat, berkawanlah semua

mereka dari sengkedan yang berbeda

dan dari air irigasi yang tak serupa

duduk bersisi tanpa pandang siapa

 

di hari Jumat, sawah tak lagi berpetak

hilang sudah pematang atau galengan

semua syahdu menyeru nama Tuhan

sama bersimpuh dengan rupa bersahaja

 

di hari Jumat,

tak ada lagi polemik hari raya

apalagi cela tentang celana

karena hamba mulai merasa

bahwa tak ada yang lebih indah

dari ibadah bersama-sama

 

Bandung, 15 September 2017 (Hari Jumat)

Brankas Privasi

Ada satu ‘hubungan’ dalam diri manusia yang tersimpan rapat dalam brankas privasi yang sulit diketahui oleh manusia yang lain. Begitu privasinya, sampai-sampai manusia disekitarnya tidak dapat menjebol isi brankas itu dan mengetahui sejauh mana hubungan tersebut terjalin. Setiap manusia memiliki isi berankas (hubungan) yang sama, namun keintimannya yang berbeda-beda.

Lantas hubungan apakah itu?

Ya, hubungan manusia dengan Tuhannya.

Kita tidak akan pernah bisa menjustifikasi hubungan ini dengan sekelebat pandangan mata. Seseorang yang terlihat begitu durhaka terhadap hubungannya, bisa jadi ialah yang paling sering meminta maaf dan menangis dalam sujud kepada-Nya. Dan seseorang yang terlihat paling mesra hubungannya, bisa jadi ia masih jatuh bangun dalam mempertahankan keimanannya.

Dan pada dasarnya manusia memang mudah memvonis dengan apa yang tampak di luar saja.

Seorang pendosa misalnya. Manusia lain bisa saja memandangnya buruk, miskin ilmu, hubungan dengan Tuhannya terlampau jauh, padahal bisa jadi si pendosa memiliki satu kemuliaan di mata Tuhan. Bisa jadi ia adalah hamba yang paling sering menangisi dan memohon ampun atas dosa-dosanya. Bisa jadi sujud dalam ibadahnya adalah sujud yang paling diterima oleh-Nya, mungkin saja bukan?

Kalau seperti itu, lantas siapakah yang dapat menerka tentang siapa yang lebih intim hubungannya dengan Tuhan?

Satu hal yang kuketahui tentang hubungan ini, setiap manusia yang benar-benar memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Tuhannya, adalah pribadi yang tidak pernah merasa paling baik. Tapi justru merasa paling hina, dengan terus berupaya untuk memperbaiki diri. Ya, tentu saja ia terus berusaha untuk memperbaiki diri.

Seorang pribadi yang dekat dengan Tuhan tidak akan membiarkan dirinya tenggelam dalam kehinaan yang sangat disadarinya. Ia selalu berupaya agar Tuhan sudi memandangnya. Ia selalu dapat melihat kebaikan dalam diri seseorang meskipun hanya sekecil biji sawi. Ia adalah hamba yang dapat merangkul orang lain untuk dapat bersama-sama memperbaiki hubungan mereka dengan Tuhannya.

Kini, mari kita bongkar isi brankas kita, dan tengoklah ke dalam, sejauh manakah hubungan yang terjalin antara kita dengan Tuhan?

Tentang Sebuah Kota

Aku pernah berspekulasi bahwa tinggal menunggu hitungan bulan sampai kota ini, Jakarta, dapat menandingi New York ataupun Tokyo.

Namun, aku sempat berpikir pula, bagaimana jika gedung-gedung penghuni kota ini dapat berbicara? Kemudian menceritakan tentang kepongahan di hadapannya dan pemandangan pilu yang tersuguh di balik tubuh gagahnya. Apakah ibukota tetap dapat menjelma menjadi tandingan kota-kota hebat di dunia?

Pernahkah kau berpikir? Jika saja bangunan penantang langit itu mengajakmu berbincang ketika matahari masih enggan untuk terbit. Masih gelap gulita, tapi kehidupan di sini tak pernah tidur.

Mungkin kau akan diajak olehnya mendengar musik-musik menyentak telinga berbaur dengan tawa, asap rokok, dan bau alkohol dari diskotek atau club malam. Mungkin kau juga akan melihat bagaimana gelapnya malam berhasil membuat hotel-hotel berkelas laku dimasuki para pejabat dan pengusaha kaya bersama wanita-wanita yang dibayar dengan tarif cukup mahal. Singkatnya, kau akan melihat bagaimana hedonisme begitu melekat di satu sisi ibukota.

Kemudian kau akan diajak olehnya untuk menoleh ke tepi. Kepada penduduk asli maupun rantauan yang masih berjibaku mencari eksistensi di kota metropolis. Mungkin kau akan mendengar tangisan dan tawa tulus dari anak-anak yang hidup beratap jembatan dan berselimut asap kendaraan. Atau kau akan melihat bagaimana kardus dapat menjadi atap bagi mereka yang bertahan di tepi lajur kereta. Mungkin juga disana kau akan dapati bayi-bayi tak berdosa menyangkut di antara sampah-sampah air kali.

Ya, menyedihkan memang. Di balik ketinggian para pencakar langit, di balik infrastruktur kokoh, dan dibalik kendaraan mewah yang berlalu lalang dengan angkuh, tersimpan cerita miris di tepi lajur kereta, juga tepi sungai kota.

 

NB: Tapi jangan kau pukul rata apa yang kusampaikan tersebut. Tentu tak semua penduduknya menderita, tak semua penduduknya durjana, tak semua penduduknya pecinta pesta.

Ayat Bernoda

Ada noda disela ayat yang kunaghamkan.

Di dalam selimut hijaz atau bayati,

Menyembul di balik tubuh alif.

 

Ia tersesat dalam lautan huruf gundul.

Meraba-raba cahaya fathah dan kasroh.

 

Ia hilang.

Hari sudah lewat petang.

 

Ia lantas menengadah,

‘Mengapa aku diadakan?’

 

Aku hanya menggeleng,

‘tanya saja pada Tuhan’

 

‘Mengapa aku diadakan?’

Ia bertanya lagi. Kali ini untuk Tuhan.

 

Tuhan terdiam, memandang noda,

‘tanya saja pada yang mengaji’

 

Aku terdiam.

Lalu menangis.

 

Bandung, 27 Maret 2017