Catatan Seorang Santri #1

Jadi santri sekaligus mahasiswa? Why not?

 

“Akhwaat… lima menit lagii….”

 “Akhwat, waktu habis. Sepuluh hitungan terakhir. Satu… dua… tiga…”

“Akhwaat, jangan lupa Opsih!”

“Akhwaat, jangan lupa BRTT!”

“Akhwaaat!”

“Akhwaaat!”

Malam pembacaan segala peraturan yang berlaku di tempat ini, membuatku nyaris muntah di tempat. Banyak banget! Aku ingat wajahku malam itu kecut sekecut-kecutnya. Bahkan temanku yang juga ikut mendaftar di tempat ini sempat tak kugubris ucapannya, lantaran terlalu mual dengan segala peraturan yang sedang dibacakan. Bagaimana tidak? Segala hal diatur! Mulai dari pakaian, cucian, hingga susunan isi lemari pun diatur! Oh My God!

Jujur saja, dua tahun tinggal di kosan dengan segala aturan yang dibuat sendiri, dilanggar sendiri, dan tentu saja tanpa sanksi apapun kecuali memaafkan diri sendiri, membuatku cukup terkejut dengan peraturan dan sanksi-sanksi yang berlaku di tempat ini. Ayolah, aku sudah dua kali keluar-masuk pesantren, tapi tidak ada yang seketat dan sedetail ini!

Malam pertama diberlakukannya aturan, aku termasuk dalam mereka yang telat keluar kamar. Hei, masih dua puluh menit lagi sampai adzan berkumandang, tapi kami harus sudah berada di luar asrama dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka dan sudut bibir yang masih terdapat bekas-bekas air liur. Bagaimana ini?

Seminggu pertama berada di sini, aku masih belum mampu menjawab bila ada kawan yang bertanya, “Gimana di sana? Betah?”

Biasanya aku hanya menjawab sekenanya, paling sekedar, “Belum tau..”

Aku pernah cukup kesal dengan para pengurus. Awalnya kupikir mereka terlalu idealis atau  mungkin berpura-pura idealis, astaghfirullah. Tenang, itu pikiranku dulu. Kini aku percaya bahwa mereka hanya berusaha menjalankan tugasnya.

Beberapa minggu berlalu, aku mulai menikmati tempat ini. Mulai menikmati segala aturan yang diberlakukan, bahkan aku sering sekali tertawa ketika hitungan keluar asrama dimulai. Kau harus tahu kawan, momen hitungan keluar asrama tampaknya akan menjadi momen di asrama yang akan paling kuingat, karena memang menarik dan lucu. Bayangkan saja olehmu, di pagi buta, kala santri baru saja bangun dari tidurnya, bahkan ada yang masih tertidur pulas (pengecualian bagi santri yang rajin : mereka sudah bangun sejak sejam atau setengah jam sebelumnya, dan sudah siap keluar asrama), tim keamanan yang bertugas akan mulai menghitung,

“Akhwaat, sepuluh menit lagii..” begitu seterusnya sampai sepuluh hitungan terakhir.

Dan yang membuatnya lucu ialah suasana pada saat sepuluh hitungan terakhir itu, asrama sibuk, ricuh. Semua santri terburu-buru. Buru-buru menarik kerudung dan memakainya dengan serampangan, melempar segala barang yang tidak dibutuhkan, mengambil barang dengan cepat, berlari-lari menuruni tangga, berkata pada orang yang menghalangi jalannya, “Hayu.. buruan..”,  tetapi ada pula mereka yang pasrah, yakin bahwa akan telat keluar asrama, dan lebih memilih menerima sanksi, biasanya mereka lebih santai berjalan, santai bersiap-siap, dan keluar asrama dengan melengang tanpa dosa. Sudah lama sekali aku ingin merekam momen ini, namun belum juga terwujud hingga tiga bulan aku di sini, doakan saja aku bisa merekamnya dan menunjukkannya padamu.

Sidak lemari. Ada suatu waktu yang kami tidak tahu kapan─yang jelas ketika penghuni asrama sedang tidak berada di asrama, maka di waktu itu tim BRTT (Bersih, Rapih, Tertib, Teratur) akan menyidak lemari dan keadaan gurfah (kamar). Jadi teknisnya begini, ketika kami sedang tidak ada di asrama, tim BRTT masuk ke kamar-kamar, mengecek kerapihan dan kebersihan kamar dan lemari santri satu persatu, pun dengan kasurnya. Kemudian memberikan stiker penilaian di depan lemari untuk penilaian lemari, di besi penyangga ranjang kasur untuk nilai ranjang kasur, dan di depan pintu kamar untuk penilaian kamar. Maka kami yang semula tidak tahu apa-apa, akan dibuat terkejut begitu datang ke asrama dengan stiker-stiker yang sudah terpajang di lemari masing-masing. Ada lima jenis stiker. Stiker yang bertuliskan MasyaAllah (untuk nilai sangat baik), Alhamdulillah (untuk nilai baik), Lumayan (untuk nilai cukup), Astaghfirullah (untuk nilai kurang), dan Naudzubillah (untuk nilai sangat kurang). Dan ini cukup membuat asrama ribut dan ramai. Ada yang bersorak kegirangan karena mendapatkan stiker yang menandakan  baik, ada pula yang menyesal karena mendapatkan stiker yang menandakan kurang baik, kemudian kami akan saling bertanya telah mendapatkan stiker apa. Pokoknya, pada malam penilaian itu, asrama akan riuh rendah.

Tidak boleh bernyanyi di asrama. Peraturan yang unik, awalnya kupikir peraturan itu diberlakukan karena pesantren ini temasuk yang berpandangan bahwa bernyanyi atau bermusik itu haram. Namun ternyata bukan begitu adanya. Pesantren ini masih toleran dengan musik, toh ketika malam muhadhoroh atau acara lain, kami diperbolehkan bernyanyi dan bermusik. Hanya ketika berada di dalam asrama saja kami tidak boleh bernyanyi. Alasannya, agar tidak mengganggu santri yang lain. Alhasil peraturan ini merupakan peraturan yang paling banyak dilanggar, khususnya bagi mereka yang memang terbiasa bersenandung. Aturannya seperti ini : nyanyi satu-tiga kata hukumannya hanya beristighfar 33x, sedangkan di atas itu ialah tiga kali seri alias tiga puluh kali push up. Mantap, bukan? Dan biasanya, di malam evaluasi akan kau temui mereka yang mengakui telah bernyanyi beberapa kata. Empat atau lima, misalnya. Pernah sekali aku memecahkan rekor muri santri di sini, haha. Aku pernah membuat tim keamanan bingung dengan sanksi apa yang harus diberikan, dan cukup membuat santri lainnya tertawa, ya, aku mengungkapkan bahwa telah bernyanyi di asrama sepuluh kata. Wayoloh!

Namun harus kuakui, santri di sini insyaAllah merupakan santri-santri yang jujur, sebanyak apapun pelanggaran yang telah dilakukan, ia akan tetap mengakui kesalahannya di malam evaluasi. Ya, malam evaluasi. Itu merupakan waktu pengungkapan kesalahan-kesalahan, tak perlu kau memaksa, karena santri yang melanggar akan maju dengan sendirinya. Percaya padaku, malam evaluasi tidak pernah sepi dari pelanggar aturan yang mengakui kesalahannya, dan mereka sudah menyiapkan jawaban bila ditanya apa kesalahan yang telah dilakukan. Bahkan ada salah seorang santri yang sengaja mencatatnya, membuat list, dengan kesalahan yang mencapai lebih dari sepuluh kesalahan, dan sanksi yang didapatkan pun pernah mencapai lebih dari lima belas kali seri alias seratus lima puluh kali push up. Yang membuatku takjub adalah kerelaannya dan keikhlasannya dalam menerima sanksi tersebut, masyaAllah. Segala hal yang dilakukan memang ada konsekuensinya, bukan?

Terlalu banyak cerita di tempat ini yang ingin kubagi denganmu. Sebab pesantren ini bukan pesantren biasa. Berada di tempat ini, bahkan menjadi santri di salah satu program yang ada di sini, merupakan anugerah dari-Nya yang amat kusyukuri, dan semoga akan selalu mensyukuri. Ada seseorang yang menganalogikan pesantren ini dengan tanah yang subur dan gembur, sedang program-program yang ada di sini adalah alat-alat pertanian yang canggih dan berkualitas, sehingga tanaman apapun yang ditanam di sana, insyaAllah akan tumbuh menjadi tanaman terbaik. Ya, semoga saja.

Inilah secuil catatan mengenai peraturan-peraturan di salah satu program di pesantren ini, Program Pesantren Mahasiswa. Guru kami pernah berkata, “Peraturan itu ada agar kita tidak celaka!”, dan itulah yang akhirnya menjadi motivasiku kala mulai bosan dengan segala aturan yang ada. Kawan, ini adalah Catatan Seorang Santri Episode Pertama, episode tentang peraturan-peraturan. Tunggu episode selanjutnya, dan terimakasih telah membaca!

Di Manggarai, Sore Itu.

Aku pernah berpikir tentang bagaimana seorang penulis dapat menulis sebuah kisah yang mampu menginspirasi banyak individu bahkan sampai memberikan perubahan dalam hidup seseorang.

Bagaimana bisa cerita rekaan mereka dengan mudah merasuk dalam jiwa-jiwa pembacanya? Bagaimana bisa kisah-kisah tersebut mendongkrak sebuah perubahan? Apakah para penulis itu merupakan utusan Tuhan yang dilahirkan dengan kemampuan yang hanya dimiliki oleh sebagian kecil manusia?

Dan aku baru menyadari jawabannya sore itu, di atas ular besi yang melaju dengan tergesa sepanjang rel berbatu. Ditemani mentari jingga yang menggantung di langit ibukota.

Hiruk-pikuk stasiun, bunyi klakson kereta yang sesekali beradu, dan manusia-manusia dengan beragam kepentingan serta kesibukannya. Sore itu banyak cerita yang keluar begitu saja dari mulut-mulut para penumpang yang kutemui.

Ada ibu muda (usia sekitar tiga puluhan) yang bercerita bahwa ia menikah di usia sembilan belas tahun dengan guru mengajinya yang saat itu berusia empat puluh lima tahun. Meski jarak usia terentang jauh, namun rumah tangga mereka menyenangkan, katanya. Anak-anaknya menuntut ilmu di pondok pesantren. Ia bilang, dulu ia jauh sekali dari agama, dan baru belajar agama dari suaminya. Dari sang ibu ini, aku menangkap cahaya keteduhan. Sorot matanya memancarkan kebijakan hidup. Tampaknya, ia telah menelan pahit-manis kehidupan, yang membuatnya lebih dewasa dalam menyikapi kehidupan.

Ada pula seorang ibu berwajah tua-aku yakin usianya tidak setua wajahnya. Baju sang ibu amat sederhana, bahkan bisa dibilang kusam dan dekil, dengan kerudung seadanya. Ia bersama kedua anaknya. Sang kakak masih duduk di sekolah dasar, sedangkan sang adik belum bersekolah. Sang ibu terang-terangan bercerita bahwa ia mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Ia sering dipukuli dan dicaci maki oleh suaminya. Tak jarang anak-anaknya turut menjadi korban kekerasan sang ayah; dilempari sepatu, digebuki, dan lain-lain. Namun sang ibu hanya bisa melawan dengan kekuatan seadanya, bahkan mungkin tanpa kekuatan. Ia tak berani melaporkan pada pihak berwajib.

Setelah sang ibu berwajah tua itu menyelesaikan kisahnya, sontak para penumpang berebut respon dan argumen. Menyuruh sang ibu segera melaporkan kepada pihak berwajib. Ia hanya mengiyakan, tapi aku tidak yakin ia akan benar-benar melaporkan perilaku suaminya.

Lalu kemudian aku tersadar…

Bahwa menulis bukanlah perihal mudah. Dan menjadi seorang penulis sejati tak lantas bersandar pada mantra ‘sim salabim’. Seorang penulis sejati–ya, kukatakan sejati, karena menjadi seorang penulis memang mudah, tapi menjadi penulis sejatilah yang amat sukar–tak bisa hanya berteman dengan secarik kertas, mesin tik, dan khayalan-khayalan saja. Seorang penulis sejati, harus terjun langsung melihat dunia. Melihat relita kehidupan dengan mata dan hati yang telanjang, lalu nanti ia akan menggambarkan dunia dengan cara yang berbeda. Dan tentu disertai nilai-nilai kehidupan yang tersirat di dalamnya.

Aku pernah bertanya, apakah aku bisa menjadi seorang penulis sejati? Penulis inspiratif, yang karya-karyanya dapat bermanfaat bagi banyak orang? Bukan sekedar karya yang memenuhi almari rumah sendiri, apalagi karya yang justru dapat menjerumuskan orang lain pada keburukan.

Kemudian aku berkaca diri, apakah aku bisa menjadi apa yang kuimpikan jika selama ini hanya berteman dengan mesin tik dan khayalanku saja?

Tidak, tentu tidak.

Seorang penulis sejati memang harus membaur bersama dunia. Masyarakat, minimal. Peka terhadap lingkungan sekitarnya. Karena dari hal tersebutlah, ia dapat banyak belajar dan lebih bijak dalam memaknai kehidupan. Sehingga apa yang ia tuliskan akan benar-benar hidup dan mampu menghipnotis pembacanya untuk melakukan sebuah kebajikan.

Penulis sejati tidak harus terkenal, kurasa. Selama karyanya mampu membuat sebuah perubahan kecil maupun besar, ia pantas disebut seorang penulis sejati. Dan betapa aku ingin menjadi salah satu diantaranya, tapi itu berarti bahwa aku harus memulai perubahan itu dari diriku sendiri. Karena penulis sejati tidak akan bisa menulis apa yang tidak pernah diketahuinya atau apa yang ia bodoh dalam memahaminya.

Ayah dan Ibu

Di malam yang pekat,

Kala bilik-bilik asrama telah gelap,

Penerangan padam,

 

Aku melantunkan doa, syahdu:

Semoga dosaku terampuni,

semoga engkau berdua sehat sentosa,

dan kita dapat bersua di surga.

 

Ah, tampaknya aku tengah merindu.

Kepada Ramadhan

Debby Fajaa

Aku ingin berbincang sejenak

kpada ia yang tengah berkemas, dan hendak pergi.

di tepi pelabuhan aku berselendang sedih,

layaknya Hayati yang ditinggal kekasih pergi.

 

Kepada ia yang akan berpamit diri

ingin kusampaikan bahwa hati, ingin

terbenam di peraduan, tempat air mata bersemayam.

 

Kepada ia yang tertunduk dan kecewa,

ingin kupilin ribuan kata maaf, sebab ‘tlah sia-siakan

segala kemuliaan yang ia gendong tiga puluh hari.

 

dunia masih saja membuat hati berotasi

dalam angan semu.

berdalih sibuk dengan ini itu. padahal

terombang-ambing dalam permainan. memabukkan.

 

Kepada ia yang bertolak sebentar lagi,

sungguh sakit dan menyesal hati rasa-rasai

seperti anak lelaki yang menyiakan cinta kekasih

dan baru insaf ketika akan ditinggal sendiri

 

Kepada ia yang hendak melangkah pergi,

ingin kutanyakan, akankah esok bersua lagi?

 

adakah Dia menerima ibadahku di bulan ini?

 

Bekasi, 14 Juni 2018

 

1 : Pembunuh Sepi

Baru-baru ini aku disibukkan dengan pencarian dari pertanyaan-pertanyaan yang berkelibat di benakku. Aku sudah mencoba mencari jawaban ke sana ke mari. Entah sudah berapa tempat yang kuporak-porandakan demi mendapat sebuah jawaban.

Aku kerap menerka-nerka dimana jawaban itu berada. Barangkali ada di balik bantal, di bawah meja makan, atau mungkin di dalam layar ponsel lima inci. Tapi seperti yang dapat kau tebak, nihil. Mereka tak memiliki jawaban.  Sampai aku benar-benar merasakan sepi yang mencekam. Dingin dan menggigil.

Malam yang sepi di tempat yang sepi. Aku meringkuk di sudut kamar yang lagi-lagi berdinding sepi. Kugigit ujung-ujung kukuku─sebenarnya baru kupotong beberapa jam yang lalu. Kucoba berdendang untuk menghilangkan sepi, namun sial, dendangan itu hanya menguap dan jadi gema di langit-langit kamar. Kurasa tinggal matikan listrik, membuat stalaktit, dan mengundang kelelawar ke tempat ini, maka  jadilah tempat ini serupa goa.  Untung saja tak kulakukan itu, lagipula mana bisa.

Aku masih bertanya-tanya siapa pembunuh sepi, sampai bibirku tertiba bergerak tanpa kupinta, mengucap potongan kalimat sarat makna..

“..Fa innii qoriib..”

(… Maka sesungguhnya Aku dekat..)

Maka mata tiba-tiba mengatup takdzim. Tubuh yang meringkuk seketika tegak tanpa perintah.  Hati segera bebenah, dan bibir kembali berucap,

“Wa idza sa alaka ‘ibaadii ‘annii faa innii qariib..”

(Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat.. Qs. Al-Baqarah: 186)

Satu tetes air mata mengalir di kesunyian malam. Bibir seperti tak mau kehilangan kesempatan, berucap lagi,

“Laa tahzan innallaha Ma’ana…”
(Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita..)

Begitu mata terbuka, tangan tergopoh-gopoh mencari sebuah kitab yang tampaknya sudah begitu lama tak terjamah. Lusuh dan sayu. Maka pecahlah tangisan itu, melukai tubuh-tubuh sepi yang menggantung. Sebuah kalimat dari kitab itu langsung menyapa pandangan mataku,

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (Qs.Qaaf ayat : 16)

Aku tergugu dan membisu. Mengigit bibir akupun tak mampu. Hati menangis parau. Aku tahu, aku sudah tahu sebenarnya. Lantas mengapa masih bertanya-tanya? Mengapa masih mengatakan sepi? Seolah lupa, bahwa Dia selalu setia menemani.

Wallahu’alam.

Pemandangan Indah

tak ada yang lebih indah dari

melihat bapak berkopiah dan berkoko bersih

bersarung, dan  meletakkan sajadah di lengan kiri

 

dengan sisa-sisa air bersuci

yang berserak di muka, lengan, juga kaki

melangkah ke surau yang memanggil minta didatangi

 

Bandung, 7 September 2017

Batu dan Kerikil

Tuhan, aku ada di jalan

dan hatiku menggenggam batu

yang kupasak dalam-dalam,

sebagaimana yang Kau titahkan padaku

kuharap ia dapat menjadi alasan,

untuk Engkau dapat menyukaiku

 

tapi ternyata cukup berat, Tuhan

di persimpangan aku bertemu kerikil-kerikil kecil

para kerikil itu merayu dari bawah tubuhku

agar aku melepas pasak batu  itu

mereka bilang, aku tak bisa berlari dengan batu

aku tak bisa melesat dengan pasak itu

 

namun jika kulepas

ia akan mencium bumi, bergedebum bunyinya

pecah dan  tak bedanya dengan kerikil kecil

 

lagipula, aku takut pada-Mu

aku takut pada-Mu

 

Bandung, 8 September 2017

Nahkoda

kalau nanti nahkoda telah bersitatap dengan kapalku,

katakan padanya bahwa

kapal ini adalah kapal paling setia di samudera

gelombang yang mengepingkan batu karang,

takkan sanggup menggulingkannya

karena ia milik Tuhanku,

dan ia sabar menunggu nahkodaku.

 

Bandung, 12 September 2017

di Hari Jumat

di hari Jumat, berkumpullah semua

padi-padi dari petak yang berbeda

yang genjah, maupun yang berhijau lama

yang merunduk atau saja yang tegak gagah

 

di hari Jumat, berkawanlah semua

mereka dari sengkedan yang berbeda

dan dari air irigasi yang tak serupa

duduk bersisi tanpa pandang siapa

 

di hari Jumat, sawah tak lagi berpetak

hilang sudah pematang atau galengan

semua syahdu menyeru nama Tuhan

sama bersimpuh dengan rupa bersahaja

 

di hari Jumat,

tak ada lagi polemik hari raya

apalagi cela tentang celana

karena hamba mulai merasa

bahwa tak ada yang lebih indah

dari ibadah bersama-sama

 

Bandung, 15 September 2017 (Hari Jumat)

Brankas Privasi

Ada satu ‘hubungan’ dalam diri manusia yang tersimpan rapat dalam brankas privasi yang sulit diketahui oleh manusia yang lain. Begitu privasinya, sampai-sampai manusia disekitarnya tidak dapat menjebol isi brankas itu dan mengetahui sejauh mana hubungan tersebut terjalin. Setiap manusia memiliki isi berankas (hubungan) yang sama, namun keintimannya yang berbeda-beda.

Lantas hubungan apakah itu?

Ya, hubungan manusia dengan Tuhannya.

Kita tidak akan pernah bisa menjustifikasi hubungan ini dengan sekelebat pandangan mata. Seseorang yang terlihat begitu durhaka terhadap hubungannya, bisa jadi ialah yang paling sering meminta maaf dan menangis dalam sujud kepada-Nya. Dan seseorang yang terlihat paling mesra hubungannya, bisa jadi ia masih jatuh bangun dalam mempertahankan keimanannya.

Dan pada dasarnya manusia memang mudah memvonis dengan apa yang tampak di luar saja.

Seorang pendosa misalnya. Manusia lain bisa saja memandangnya buruk, miskin ilmu, hubungan dengan Tuhannya terlampau jauh, padahal bisa jadi si pendosa memiliki satu kemuliaan di mata Tuhan. Bisa jadi ia adalah hamba yang paling sering menangisi dan memohon ampun atas dosa-dosanya. Bisa jadi sujud dalam ibadahnya adalah sujud yang paling diterima oleh-Nya, mungkin saja bukan?

Kalau seperti itu, lantas siapakah yang dapat menerka tentang siapa yang lebih intim hubungannya dengan Tuhan?

Satu hal yang kuketahui tentang hubungan ini, setiap manusia yang benar-benar memiliki hubungan yang sangat dekat dengan Tuhannya, adalah pribadi yang tidak pernah merasa paling baik. Tapi justru merasa paling hina, dengan terus berupaya untuk memperbaiki diri. Ya, tentu saja ia terus berusaha untuk memperbaiki diri.

Seorang pribadi yang dekat dengan Tuhan tidak akan membiarkan dirinya tenggelam dalam kehinaan yang sangat disadarinya. Ia selalu berupaya agar Tuhan sudi memandangnya. Ia selalu dapat melihat kebaikan dalam diri seseorang meskipun hanya sekecil biji sawi. Ia adalah hamba yang dapat merangkul orang lain untuk dapat bersama-sama memperbaiki hubungan mereka dengan Tuhannya.

Kini, mari kita bongkar isi brankas kita, dan tengoklah ke dalam, sejauh manakah hubungan yang terjalin antara kita dengan Tuhan?